JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah atas dollar AS pada awal tahun ini masih dalam fase tertekan akibat sentimen negatif dari sisi eksternal. Bank Indonesia pun diperkirakan berjaga terus di pasar agar rupiah tidak terlalu tertekan. Kemarin, di akhir perdagangan, rupiah ditutup menguat di level Rp 9.650 per dollar AS dari saat dibuka di level Rp 9.660 per dollar AS. Rupiah bergerak di kisaran Rp 9.640-9.680 per dollar AS (berdasar pengamatan data di Reuters). IHSG yang ditutup di zona hijau kemarin memberikan efek positif terhadap rupiah menjelang penutupan. Menurut riset BNI Treasury, Bank Indonesia terlihat aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredakan tekanan terhadap rupiah. Hasil rilis data inflasi Desember yang terjaga di 4,3 persen sesuai dengan target inflasi tahunan BI di 3,5-5,5 persen dan defisit neraca perdagangan yang membaik diharapkan memberikan sentimen positif terhadap rupiah hari ini. Rupiah berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi melemah hari ini. Non Delivery Forward satu bulan di pasar offshore pagi ini rupiah dibuka menguat di level Rp 9.778-9.789 per dollar AS sehingga diharapkan memberikan sentimen positif terhadap rupiah di pasar onshore pagi ini. Bank Indonesia diproyeksikan masih akan terus mengawal pergerakan rupiah di tengah cadangan devisa yang diperkirakan naik di bulan Desember dari bulan sebelumnya.
Sumber :Kompas.com
Rabu, 09 Januari 2013
Penerimaan Pajak 2012 Meleset dari Target
JAKARTA, KOMPAS.com — Realisasi penerimaan pajak tahun 2012 meleset dari target APBN-Perubahan. Sampai akhir Desember 2012, penerimaan pajak mencapai Rp 980,1 triliun atau 3,6 persen lebih rendah dari target sebesar Rp 1.016,2 triliun.
"Hal ini antara lain disebabkan oleh tidak tercapainya target penerimaan PPh nonmigas, pajak lainnya, dan bea keluar," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (7/1/2013).
Menkeu memaparkan realisasi penerimaan pajak penghasilan (PPh) mencapai Rp 464,7 triliun atau 90,3 persen dari target Rp 513,7 triliun dan bea keluar mencapai Rp 21,2 triliun atau 91,5 persen dari target Rp 23,2 triliun.
Ia mengatakan, tidak tercapainya realisasi tersebut berkaitan dengan lesunya sektor pertambangan yang dipicu oleh rendahnya kadar konsentrat mineral di area pertambangan.
"Selain itu, menurunnya pertumbuhan ekspor berpengaruh pada melambatnya penerimaan pajak di sektor industri pengolahan," kata Menkeu.
Dari sisi ekonomi makro, lebih rendahnya realisasi penerimaan perpajakan tersebut terjadi berkaitan dengan menyempitnya basis pajak sehubungan dengan lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi pada 2012.
Sumber: Kompas.com
"Hal ini antara lain disebabkan oleh tidak tercapainya target penerimaan PPh nonmigas, pajak lainnya, dan bea keluar," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (7/1/2013).
Menkeu memaparkan realisasi penerimaan pajak penghasilan (PPh) mencapai Rp 464,7 triliun atau 90,3 persen dari target Rp 513,7 triliun dan bea keluar mencapai Rp 21,2 triliun atau 91,5 persen dari target Rp 23,2 triliun.
Ia mengatakan, tidak tercapainya realisasi tersebut berkaitan dengan lesunya sektor pertambangan yang dipicu oleh rendahnya kadar konsentrat mineral di area pertambangan.
"Selain itu, menurunnya pertumbuhan ekspor berpengaruh pada melambatnya penerimaan pajak di sektor industri pengolahan," kata Menkeu.
Dari sisi ekonomi makro, lebih rendahnya realisasi penerimaan perpajakan tersebut terjadi berkaitan dengan menyempitnya basis pajak sehubungan dengan lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi pada 2012.
Sumber: Kompas.com
Meski Krisis, Ekspor Mebel Tetap Tumbuh
Indonesia kaya sumber daya alam yang bisa menunjang industri mebel. Namun secara desain, para perajin kita mayoritas selalu membuat sesuai dengan pesanan pembeli.
JAKARTA, KOMPAS.com — Meski krisis ekonomi global masih terus berlangsung, ekspor mebel tetap tumbuh menggembirakan. Periode Januari-September 2012, pertumbuhan ekspor mebel mencapai 6,9 persen. Hingga akhir tahun 2012, pertumbuhan diproyeksikan 8-10 persen. Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Tjahyono, di Jakarta, Selasa (8/1/2013), mengatakan, pertumbuhan tersebut di luar perkiraan para pengusaha. Sebelumnya para pengusaha memprediksi ekspor mebel bakal turun mengikuti penurunan ekspor Indonesia secara keseluruhan. "Situasinya krisis, tapi masih tetap tumbuh. Ini sungguh menggembirakan," katanya. Menurut data Asmindo, ekspor periode Januari-September 2012 tercatat 1,4 miliar dollar AS. Sampai akhir tahun 2012, ekspor diproyeksikan berada di level 1,8 miliar dollar AS. Ekspor mebel memburuk pada tahun 2011 dengan nilai 1,76 miliar dollar AS atau turun sekitar 10 persen dibandingkan dengan tahun 2010.
Indonesia kaya sumber daya alam yang bisa menunjang industri mebel. Namun secara desain, para perajin kita mayoritas selalu membuat sesuai dengan pesanan pembeli.
Sumber :Kompas.com
Pengangguran di Italia Masih Tetap Tinggi
MILAN, KOMPAS.com - Tingkat pengangguran di Italia pada bulan November 2012 tercatat 11,1 persen. Angka tersebut sama dengan bulan Oktober 2012. Artinya tidak banyak perubahan yang terjadi pada ekonomi di Italia.
Demikian rilis kantor statistik Italia, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (8/1/2013). Dibandingkan bulan November 2011, tingkat pengangguran di bulan November 2012 1,8 persen lebih tinggi. Tingkat pengangguran tersebut adalah tertinggi sejak tahun 2004.
"Siklus tersebut akan terus berdampak pada prospek lapangan kerja pada 2013 . Tingkat pengangguran akan mencapai puncaknya di level 11,6 persen selama musim panas," kata analis dari Intesa Sanpaolo Bank .
Italia mengalami resesi keempat kalinya sejak 2001. Merosotnya perekonomian Italia diperparah oleh kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran belanja publik, yang disahkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Mario Monti, dengan tujuan agar krisis utang kawasan Eropa tidak meluas.
Demikian rilis kantor statistik Italia, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (8/1/2013). Dibandingkan bulan November 2011, tingkat pengangguran di bulan November 2012 1,8 persen lebih tinggi. Tingkat pengangguran tersebut adalah tertinggi sejak tahun 2004.
"Siklus tersebut akan terus berdampak pada prospek lapangan kerja pada 2013 . Tingkat pengangguran akan mencapai puncaknya di level 11,6 persen selama musim panas," kata analis dari Intesa Sanpaolo Bank .
Italia mengalami resesi keempat kalinya sejak 2001. Merosotnya perekonomian Italia diperparah oleh kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran belanja publik, yang disahkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Mario Monti, dengan tujuan agar krisis utang kawasan Eropa tidak meluas.
Indosat Bayar Utang Rp 3,9 Triliun Juni 2013
Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) berencana melunasi utang jatuh temponya Juni 2013 sebesar Rp 3,98 triliun. Dari total angka tersebut, sebesar Rp 2,68 triliun merupakan utang dalam bentuk dolar sementara sisanya rupiah.
Group Head Investor Relation ISAT Bayu Hanantasena mengaku, pihaknya mencoba untuk melakukan refinancing dengan menerbitkan obligasi rupiah untuk melunasi utang-utangnya itu.
"Kita akan melakukan refinancing. Tetapi seperti apa, sedang dibicarakan. Kita prefer lebih ambil refinancing di rupiah. Jadi US$ ditukar ke rupiah. Most likely akan di-refinancing tetapi ini belum diputuskan. Nanti kalau sudah waktunya dikasih tau," ujarnya saat berbincang bersama wartawan, di Resto Palalada, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (9/1/13).
Sementara itu, perseroan mencatat posisi kas sebesar Rp 3,5 triliun per September 2012. Dia juga menyebutkan, tahun ini akan meningkatkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) di atas US$ 800 juta atau lebih tinggi dari capex tahun 2012 sebesar US$ 600 juta. Nantinya capex itu sebagian besar akan digunakan perseroan untuk memperkuat jaringan.
"Kan kita bisa jual tower, jual saham TBIG, atau ngeluarin obligasi rupiah. Yang mature kita refinance. Untuk menekan rugi kurs, kita akan konversi utang dolar pakai rupiah. Tahun kemaren 20% hedging utang. Tahun ini kita mengurangi beban forex dengan menerbitkan obligasi rupiah," terangnya.
Group Head Investor Relation ISAT Bayu Hanantasena mengaku, pihaknya mencoba untuk melakukan refinancing dengan menerbitkan obligasi rupiah untuk melunasi utang-utangnya itu.
"Kita akan melakukan refinancing. Tetapi seperti apa, sedang dibicarakan. Kita prefer lebih ambil refinancing di rupiah. Jadi US$ ditukar ke rupiah. Most likely akan di-refinancing tetapi ini belum diputuskan. Nanti kalau sudah waktunya dikasih tau," ujarnya saat berbincang bersama wartawan, di Resto Palalada, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (9/1/13).
Sementara itu, perseroan mencatat posisi kas sebesar Rp 3,5 triliun per September 2012. Dia juga menyebutkan, tahun ini akan meningkatkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) di atas US$ 800 juta atau lebih tinggi dari capex tahun 2012 sebesar US$ 600 juta. Nantinya capex itu sebagian besar akan digunakan perseroan untuk memperkuat jaringan.
"Kan kita bisa jual tower, jual saham TBIG, atau ngeluarin obligasi rupiah. Yang mature kita refinance. Untuk menekan rugi kurs, kita akan konversi utang dolar pakai rupiah. Tahun kemaren 20% hedging utang. Tahun ini kita mengurangi beban forex dengan menerbitkan obligasi rupiah," terangnya.
Jual Saham Bhakti Investama, Hary Tanoe Raup Rp 483 Miliar
Jakarta - Pengusaha Hary Tanoesoedibjo melepas saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT). Total dana yang berhasil diraup Hary sebanyak Rp 483,784 miliar.
Seperti dikutip dari laporan BHIT kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/1/2013), penjualan saham dilakukan dua kali, yaitu pada 27 dan 28 Desember 2012. Harga saham dalam penjualan ini dipatok Rp 530 per lembar.
Sebanyak 252,8 juta lembar dilepas pada 27 Desember 2012. Pemilik Grup MNC ini pun meraup dana sebesar Rp 133,984 miliar.
Esoknya, pelepasan saham kembali dilakukan, kali ini jumlah yang dijual sebanyak 660 juta lembar saham. Hary meraup dana sebanyak Rp 349,8 miliar. Setelah transaksi ini, struktur pemegang saham di BHIT pun berubah.
Seperti dikutip dari laporan BHIT kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/1/2013), penjualan saham dilakukan dua kali, yaitu pada 27 dan 28 Desember 2012. Harga saham dalam penjualan ini dipatok Rp 530 per lembar.
Sebanyak 252,8 juta lembar dilepas pada 27 Desember 2012. Pemilik Grup MNC ini pun meraup dana sebesar Rp 133,984 miliar.
Esoknya, pelepasan saham kembali dilakukan, kali ini jumlah yang dijual sebanyak 660 juta lembar saham. Hary meraup dana sebanyak Rp 349,8 miliar. Setelah transaksi ini, struktur pemegang saham di BHIT pun berubah.
Banyak Eksportir Tak Beralamat Jelas, BI Pusing Kejar Devisa
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengeluhkan ulah eksportir yang selalu berpindah alamat, sehingga menyulitkan untuk penarikan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Ini merupakan hambatan yang cukup serius.
Direktur Eksekutif Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Hendy Sulistyowati menuturkan berdasarkan pengalaman, butuh waktu yang lama untuk mengejar eksportir ini.
Menurutnya, ini dilakukan secara sengaja untuk menghindari setoran DHE. Harusnya, sambung Hendy eksportir harus melakukan update alamat terbaru kepada pihak perbankan.
"Jadi eksportir itu ada yang nakal. Jadi mereka pindah-pindah alamat. Nggak update alamat mereka yang baru," jelasnya.
Selain itu, menurut Hendy hambatan selanjutnya dalam penarikan DHE adalah sistem perbankan itu sendiri. Di luar bank-bank besar, banyak bank yang masih kurang bagus sistemnya.
"Banyak bank yang sistem pencatatan transksinya belum bagus. Kalau mencatat uang okelah, tapi kalau data rincinya itu yang kurang bagus," ucap Hendy.
Hingga Oktober 2012, BI mencatat penerimaan DGE sebesar 15% dari total ekspor. Penerimaan terbesar adalah dari komoditas batu-bara, crude palm oil dan tekstil.
Sumber :Detik.com
Direktur Eksekutif Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Hendy Sulistyowati menuturkan berdasarkan pengalaman, butuh waktu yang lama untuk mengejar eksportir ini.
Menurutnya, ini dilakukan secara sengaja untuk menghindari setoran DHE. Harusnya, sambung Hendy eksportir harus melakukan update alamat terbaru kepada pihak perbankan.
"Jadi eksportir itu ada yang nakal. Jadi mereka pindah-pindah alamat. Nggak update alamat mereka yang baru," jelasnya.
Selain itu, menurut Hendy hambatan selanjutnya dalam penarikan DHE adalah sistem perbankan itu sendiri. Di luar bank-bank besar, banyak bank yang masih kurang bagus sistemnya.
"Banyak bank yang sistem pencatatan transksinya belum bagus. Kalau mencatat uang okelah, tapi kalau data rincinya itu yang kurang bagus," ucap Hendy.
Hingga Oktober 2012, BI mencatat penerimaan DGE sebesar 15% dari total ekspor. Penerimaan terbesar adalah dari komoditas batu-bara, crude palm oil dan tekstil.
Sumber :Detik.com
Langganan:
Postingan (Atom)